Aku dan Takdirku
Banyak hal yang sudah saya alami dalam hidup
membuat saya bangga menjadi perempuan. Saya hidup di lingkungan keluarga yang
cukup ketat dalam urusan agama. Dulu saya sering ngeluh, bahkan kadang ingin
pergi dari rumah untuk atas nama kebebasan. Kebebasan yang ingin juga saya
rasakan selayaknya anak seusia saya pada waktu itu. Sebagai remaja saya ingin
juga dong main ke rumah teman, punya sahabat karib, atau mungkin pacaran.
Sebenarnya bapak dan ibuk gak pernah sedikitpun membentak, memarahi, apalagi
memukul. Mereka berdua hanya memberikan kami nasehat tentang batas-batas dalam
pergaulan. Itu sudah membuat kami bertiga takut dan mematuhinya. Walau saya
sendiri ingin juga sih sedikit nakal pada waktu itu.
Sering terlintas dalam
pikiran untuk pergi dari rumah tapi cinta dan sayangku pada mereka
mengalahkannya. Namun kini ketika sudah dewasa dan berkeluarga, saya baru
mengerti perasaan orangtua saya pada waktu itu. Bahwa apapun yang mereka
lakukan untuk kami tak lain untuk kebaikan dan masa depan kami lebih baik. Apa jadinya kami jika tanpa aturan. Apalagi
saya anak perempuan. Tidak bisa dipungkiri walau persamaan hak telah lama kita
dapat, perempuan dan laki-laki tetap berbeda. Mereka mempunyai keistimewaan dan
peran masing-masing sesuai kodratnya. Karena masyarakat kita masih beranggapan
bahwa martabat orangtua tergantung pada anak perempuannya. Apalagi kalau sudah
gadis. Anak gadis selalu jadi pusat perhatian semua mata dengan beribu maksud.
Maksud ingin memata-matai kita. Maksud ingin menggoda. Atau maksud lainnya. Jika
gak tahan goda terjerumus lah kita. Dan menyesal datangnya pasti belakangan. Alhamdulillah
berkat didikan orangtua, saya berhasil melewati masa-masa remaja dengan hal-hal
positif. Walau kadang pengen juga sih agak nakal sedikit tapi alhamdulillah
bisa mengendalikan.
![]() |
| Sumber : Koleksi Pribadi |
Kini saya sudah menikah. Tak terasa pernikahan
kami sudah menginjak tahun kesembilan. Kami juga sudah dikaruniai dua jagoan.
Tentunya aral merintang silih berganti tapi kami berdua berhasil melewati.
Selama sembilan tahun pernikahan tentunya banyak pelajaran hidup saya dapatkan.
Peran yang bertambah itu pasti. Yang sebelumnya hidup saya hanya untuk belajar
dan orangtua, kini beralih untuk suami dan anak. Walau membahagiakan orangtua tetep
jadi tujuan sih, tapi tanggungjawabku kepada suami dan anak sekarang jadi
prioritas.
Perjalanan hidup selama pernikahan membuat saya mengerti betapa besar
pengorbanan ibuk terhadap kami bertiga. Pengorbanan ibuk demi kehagiaan dan masa
depan kami. Kadang nyesel banget jika dulu sering uring-uringan dan suka
memberontak. Sekarang saya baru sadar bahwa apapun yang mereka lakukan untuk
kami anaknya hanyalah untuk kebaikan kami saja. Walau mungkin ada salah-salah
dikit itu wajar wong manusia. Bagaimanapun cara didik mereka tapi nyatanya
banyak efek positif yang bisa saya rasakan. Saya yang dahulu seorang anak kini
juga seorang ibu. Semua perjalanan selama menjadi anak adalah modal besar saya
dalam mendidik dua anak saya, Muhammad Nazhif Kayyisa Wafi dan Muhammmad Hilmi Haidar Al-faruq, kebanggan saya.
Salah
satunya keputusan saya untuk risen mengajar. Setelah 8 tahun saya geluti bidang
ini. Keputusan saya sangat disayangkan orangtua tapi saya tak ingin
menyia-nyiakan masa kecil anak kami. Saya ingin anak kami bisa merasakan
lembutnya kasih ibu yang dulu kurang saya rasakan. Bukan berarti ibu saya ibu
yang buruk. Sungguh ia contoh ibu terbaik bagi saya. Tapi ada beberapa
pengalaman masa kecil yang membuat saya seperti ini. Toh banyak hal yang bisa
saya lakukan di rumah. Contohnya saja dengan saya menulis. Dengan menulis saya
tetap bisa berbagi ilmu dan berteman. Saya ingin menekan ego saya untuk tidak
berpendar seorang diri. Saya yang sekarang lebih bangga melihat suami dan anak
sukses daripada saya sibuk menggpai angan seorang diri. Semoga saya besok juga
tetep dengan pendirian sama.
"Di balik sukses seorang tokoh, tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan isteri" #Petikan pidato BJ Habibie pada saat Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Filsafat Teknologi dari ... peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan isteri”
Feminisme, Antara Kesetaraan dan Kebablasan
Mungkin banyak perempuan Indonesia yang
bernasib sama seperti saya. Mungkin ada yang merasa kebebasannya telah
direnggut oleh agama dan adat di masyarakat. Tak bisa begini tak bisa begitu.
Merasa perempuan dibedakan dengan kaum lelaki. Merasa perempuan selalu dinomor
duakan dan selau kedudukannya selalu dibawah laki-laki. Berbagai usaha telah
perempuan lakukan demi meraih kesetaraaan yang mereka inginkan. Salah satunya
adalah perjuangan Kartini dalam usahanya mendapatkan kesetaraan dengan
laki-laki dalammm hal pendidikan.
Dia adalah
perempuan istimewa pada zamannya yang sangat peduli dengan sesamanya. Dimana
pada saat itu banyak perempuan diperlakukan kurang menyenangkan di masyarakat
karena terlahir sebagai perempuan salah satunya dalam hal pendidikan. masyarakat
pada zaman Kartini beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mencari ilmu terlalu
tinggi karena ujung-ujungnya hanya berkutat pada dapur, sumur dan kasur.
Alhasil perempuan Indonesia banyak yang buta huruf. Itulah yang mendorong Kartini untuk membuat sekolah kecil khusus perempuan dan menuangkan ide dan
keluh kesahnya dalam mengangkat derajat kaumnya.
Jadi pantas kiranya jika Kartini disebut sebagai salah satu pelopor gerakan feminisme di Indonesia. apa itu feminisme? Gerakan feminisme adalah suatu gerakan perempuan
dalam memperoleh kesetaraan politik, sosial
dan pendidikan antara kaum perempuan dan laki-laki. Namun sayang seiring berkembangnya zaman, gerakan
feminis yang dipopulerkan oleh Charles Fouries ini tak lagi
sesuai dengan tujuan pertamanya. Gerakan-gerakan feminis yang dibentuk
perempuan pada zaman sekarang telah sangat melenceng dari ideologi awal yang
menuntut kesetaraan, justru pada kenyataannya mencari kekuasaan dan kebebasan
yang di luar batas.
Ada beberapa contoh
gerakan-gerakan feminis dunia yang terbukti melenceng dari tujuan pertamanya. Contohnya
saja gerakan feminis yang pernah terjadi di Indonesia yang sangat
kontroversial. Diantaranya hak mengeksplotasi tubuh secara bebas dan adanya
tuntutan pembebasan perempuan dari ketidak adilan hukum fikih. Mereka berusaha
mengkritisi berbagai masalah fikih yang dianggap merugikan atau tidak adil
terhadap perempuan, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan naïf seperti: Apakah
perempuan wajib berjilbab? Mengapa perempuan hak warisnya setengah? Mengapa
perempuan tidak boleh menikahkan diri sendiri? serta Mengapa perempuan tidak
layak menjadi imam dalam beribadah dengan laki-laki?
Selain di Indonesia, di
Australia juga terjadi hal yang sama. Ada anak remaja perempuan berusia
14 tahun menginginkan dan akan bertukar pasangan tiga kali silih berganti dalam
sehari tanpa ada yang tahu satu sama lain. Sebab anak perempuan itu berpikir
bahwa pria bisa berganti-ganti pasangan seenaknya, mengapa perempuan tidak?
Tidak hanya itu, dewasa
ini bahkan ada gerakan feminisme bertelanjang dada dan gerakan pembakaran bra.
Ironisnya, telah terjadi kesalahpahaman arti feminisme yang dilakukan oleh
wanita itu sendiri. Adanya pemahaman kesetaraan gender yang keliru bahkan
meleset jauh dari arti sesungguhnya yang tanpa mereka sadari menjatuhkan harga
diri mereka sendiri dan tentunya sangat berdampak negatif bagi kehidupan sosial
mereka.
Berbagai gerakan-gerakan
feminis tersebut menurut saya sudah sangat berlebihan. Karena mereka tak lagi
menginginkan kesetaraan saja namun juga kebabasan yang diluar batas. Gerakan-gerakan
itu Cuma sebagai kedok untuk memuluskan jalan mereka untuk mengakali hukum dan
peraturan agar sesuai dengan kehendak mereka. Padahal hidup dalam hidup harus
memiliki aturan dan etika. Dan antara perempuan dan laki-laki sejatinya memang
berbeda. Dua-duanya memiliki tugas dan peran masing-masing yang sama
istimewanya. Dan jika mereka mengerti perempuan memiliki tugas yang sangat
mulia yang tidak bisa didapat oleh seorang laki-laki. Yaitu menciptakan
generasi-generasi unggul dengan tangannya. Jadi apapun pekerjaan dan sehebat
apapun perempuan di luar sana selayaknya tidak meninggalkan tugas dan
tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga.
Dra. Khofifah Indar Parawansa adalah Inspirasiku
![]() |
| SUMBER : louvrefoto.com |
Dan yang membuat saya
sangat mengidolakannya beliau adalah sosok muslimah berhijab yang sungguh
insiparatif bagi kaumnya. Beliau adalah sosok yang tegas, tangguh dan tak
pantang menyerah. Siapa sangka Menteri Sosial di (Kabinet Pemerintahan) Presiden Jokowi ini, berasal dari keluarga yang sederhana. Orangtua beliau hanya seorang penjual
es lilin saja. Dan ibu khofifah kecil biasa membantu orangtuanya berjualan juga.
Selain itu, beliau juga tak pernah melupakan perannya sebagai seorang ibu dari
empat orang anaknya. Walaupun harus curi-curi waktu beliau selalu menyempatkan untuk
kualititime dengan anak-anaknya. Diantaranya berbelanja kebutuhan belanja
bulanan bersama anak-anaknya atau hanya sekedar merawat kelinci peliharaan
depan rumah. Dan selalu memantau anaknya via telpon ketika sedang melakukan
tugasnya.
Beginilah seorang ibu seharusnya. Bagaimanapun perannya di
masyarakat. Setinggi apapun jabatannya, selayaknya seorang ibu atau seorang
istri tidak melupakan tugas dan tanggung jawabnya dalam keluarga.


Saya bersyukur dan bangga Mba, saya ditakdirkan jadi perempuan Indonesia. Ga semua perempuan bisa memiliki kesempatan seperti kita perempuan2 Indonesia. Hidup di masyarakat yang masih memandang rendah kaum perempuan membuat saya makin bersyukur atas ini :)
BalasHapusiya mbak kadang kita yang hidup di Indonesia seperti saya kurang bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita masyarakat Indonesia. Oh..ya makasih kunjungannya mbak cantiiik...!!!
HapusAlhamdulillah, saya pun bersyukur lahir menjadi wanita Indonesia, dimana kita dijunjung tinggi nilai-nilai dan norma, ada batasan yang tidak bisa kita lewati, yang terpenting wanita Indonesia pun tidak kalah, masih bisa berkarya dan berprestasi. Seperti idola mba, Ibu Khofifah, beliau memang wanita yang luar biasa. :)
BalasHapusiya mbak bener banget... Terimakasih banyak telah mampir di blog saya :)
Hapus