Perasaan
khawatir mulai menderaku. Bagaimana tidak sudah dua jam lebih gadis itu tak
kunjung sadarkan diri. Terpaksa ku cancel beberapa pertemuan dengan klien
penting karena khawatir dengan kondisinya. Apa yang kulakukan ini sangatlah
wajar, mengingat yang telah dilakukannya. Tak bisa ku bayangkan apa yang
terjadi dengan ku jika ia tak mendorongku tadi.
Dan imbasnya, ia yang malah mengalami luka yang lebih parah hingga tak
sadarkan diri karena pengendara sepeda motor ugal-ugalan itu menyenggolnya.
Ach… aku sangat menyesal dengan kejadian itu, karena kecerobohanku orang lain
celaka. Dan yang paling membuat ku khawatir perkataan dokter setelah
memeriksanya. dokter mengatakan segala macam tindakan seperti obat, infuse dan tindakan
lainnya sepertinya tidak membarikan efek baik bahkan ditolak oleh tubuh gadis
itu. Sehingga Dokter hanya memerban luka di tubuhnya. Aku takut ini disebabkan
kecelakaan tadi. Aku sungguh khawatir…
![]() |
| SUMBER : septianaindri79 |
“Kang…
kang jangan tinggal Ratih sendiri kang…!”, suara lirih gadis itu membangunkan
lamunanku. “Alhamdulillah… dia sadar juga”, gumamku. Langsung saja kupanggil
suster yang kebetulan berjalan dekat pintu ruangan ini. Tapi anehnya gadis itu
malah ingin beranjak tempat tidurnya. “Saya dimana ini, teh … !”, tanyanya
sambil sambil beranjak dari tempat tidur. Aku melarangnya untuk bangun, untung
dokter segera datang dan memeriksanya. “Bagaimana keadaannya dok?” tanyaku pada
dokter. Tapi dengan raut muka serius, dokter mengajak saya ke ruangannya. Dan
kesimpulannya, dokter menemukan beberapa kejanggalan pada tubuh gadis itu yang
belum pernah dokter temui. Aku tambah merasa semakin merasa bersalah
mendengarnya. Aku takut ini dikarenakan kecelakaan tadi siang. Untuk itu saya
meminta dokter untuk menyelidiki lebih mendalam dan temukan solusi agar gadis
itu bisa pulih seperti biasa.
Setelah
menemui dokter, saya langsung bergegas menemui gadis itu. Kami berkenalan satu
sama lain dan tak lupa kuucapkan permintaan maaf dan terima kasih kepadanya.
Ternyata Gadis itu bernama Ratih. Sosok langka yang tak pernah kutemui di zaman
sekarang. Betapa tidak, di zaman sekarang ada gadis yang belum genap 20 tahun,
berpakaian kebaya dengan rambut disanggul.
Selain itu, logat sundanya yang sangat kental menambah keunikan gadis
ayu nan santun ini. Untung saja Oma orang sunda juga, Jadi sedikit-sedikit aku
faham ucapannya.
Kami
ngobrol kesana-kemari. Sampai akhirnya, ia menceritakan tujuan datang ke kota
ini, Walau agak nggak percaya sich… Bayangkan saja! Menurut ceritanya,
kedatangannya ke daerah ini adalah untuk mencari tunangannya yang hilang tanpa
kabar. Setelah sepasang kekasih itu berpisah. Ratih dan keluarganya harus
mengungsi dari tempat kelahirannya di Karapyak. Sedang tunangannya memutuskan
tetap di desanya untuk ikut bergerilya membumi hanguskan kota Bandung sebagai
cara memerangi sekutu. Hah.. Sekutu bukankah itu terjadi di zaman penjajahan
Belanda? Lalu di mana desa Karapyak itu? Selama lima tahun di Bandung membangun
bisnis butikku, belum pernah aku mendengar desa Karapyak. Imbasnya, Aku bingung
menanggapi ceritanya. Aku hanya bisa manggut-manggut saja mendengar ceritanya.
Walau dalam hatiku sedang terjadi perang dahsyat antara memercayai Ratih atau
tidak. Ingin rasanya nggak percaya, Bukankah peristiwa itu terjadi puluhan
tahun yang lalu? Logikaku menolaknya. Tapi apa motif gadis lugu ini berbohong
padaku? Tapi jika dilihat dari logat bicara dan penampilannya, Ratih memang
lebih pantas menjadi gadis-gadis zaman dahulu. Tapi apa mungkin? Ahh… aku
menjadi lebih takut mendengar cerita Ratih. Aku takut Ratih mengalami
halusinasi atau hal lain yang diakibatkan benturan di kepalanya siang tadi. Aku
semakin tak tega meninggalkannya. Ku putuskan untuk tetap menungguinya. Walau
bik Narti sudah datang untuk menggantikanku sambil membawakan makan siang. Aku
tetap bersikeras untuk menungguinya. Kedatangan bik Narti malah ku manfaatkan
untuk mendatangi ruang dokter untuk menceritakan
kegelisahanku terkait gadis itu.
Sang
surya mulai pulang ke peraduan. Gadis
itu sudah kelihatan membaik. Badannya sudah tidak lemas lagi. Walau mukanya
masih terlihat pucat. Tanda bahwa dia belum sehat benar. Saat aku dan bik Narti
sedang asik ngobrol di depan ruangan itu, Ratih menghampiri kami. Aku
memintanya untuk kembali beristirahat, tapi ia menolaknya. Ia malah duduk
disampingku.” Aya hiji hal anu hoyong abdi bicarakan kalawan teteh!”, kata
Ratih dengan suara lembutnya. “ Oo iya Rat… boleh silahkan !”, jawabku. “Teh
Sofi, hatur nuhun seueur luhur sadayana. awak abdi atos enakan. menta widi
kanggo neraskeun lalampahan balik pilari tunangan abdi...” pinta Ratih saat
berpamitan kepadaku. Aku dengan tegas menolaknya. Karena aku yakin Ratih belum
sembuh benar. Tapi dia merasa sudah tidak betah berada di rumah sakit. Ia ingin
segara mencari tunangannya kembali. Akhirnya, karena ia memaksa. Aku bicarakan
ini pada dokter. Dokter ternyata juga menyetujui permintaanya. Karena dokter
juga belum bisa memberi tindakan apa-apa. Tapi dokter menyarankan untuk
melakukan pemeriksaan AKG ketika Ratih sudah cukup sehat.
Aku
beritahukan informasi ini padanya. Ia kelihatan sangat senang. Tapi aku mohon
padanya untuk tinggal di rumahku sampai ia sudah sembuh benar. “Hatur nuhun
teh,nanging abdi kedah mios... “ ,katanya padaku. “ Tapi kamu belum sembuh
Ratih. Saya akan merasa sangat bersalah selama hidup saya jika kamu menolak
permintaan saya lho!” pintaku setengah mengiba. “Saya janji akan membantu kamu
mencari kekasihmu sebisaku” lanjutku. Setelah cukup alot perdebatan kami,
akhirnya dia setuju juga.
Sungguh
Ratih pribadi yang tidak hanya santun tapi juga rajin. Dia tak segan membantu
apa saja. Walau aku tahu dia belum sembuh benar. Dan untuk masalah dapur dia
jagonya. Terutama masakan-masakan sunda. Dari soto bandung, sambel goreng ati
kentang, ayam bakakak, misro, es cendol sampai es cingcau. Semuanya sudah
pernah tersaji di meja makanku. Dan anehnya semua masakannya, bercita rasa sama
dengan buatan Oma. Jadi, karenanya kerinduanku pada Oma sedikit bisa terobati.
Tiga
hari sudah berlalu setelah kedatangan Ratih. Kami menjadi semakin akrab. Aku
tak lagi kesepian jika malam hari. Karena biasanya bik Narti akan pulang ke
rumahnya jika waktu menjelang sore. Begitu juga sopirku ‘pak Toha’. Dia juga pulang
setelah menjemputku dari butik. Kesepian selalu melanda ku ketika malam hari.
Tapi kini setelah kedatangan Ratih, aku jadi ada teman ngobrol. Walau kadang
sulit memahami bahasa sundanya yang kental lagi sangat halus, tapi aku merasa
nyambung saja. Dan diapun juga bisa memahami bahasaku walau tak bisa
mengimbanginya. Sampai-sampai aku punya keinginan untuk mengangkatnya sebagai
adek dan menyekolahkannya. Walau belum kuutarakan langsung. Karena ternyata
gadis itu tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Bahkan membacapun ia tidak
bisa. Aku akan senang jika dia setuju. Karena selama ini aku hanya tinggal dan
dibesarkan oleh Oma di Jakarta. Mama meninggal setelah melahirkan aku. Sedang
papa menikah lagi lima tahun kemudian. Dan setelah itu ia tak pernah menjengukku.
Mungkin kedatangan Ratih dapat mengobati kerinduanku akan arti keluarga.
Biasanya
Ratih selalu diantar pak Toha ketika menyusuri kota untuk mencari tunangannya.
Tapi hari Minggu ini aku berjanji akan menemaninya. Kami berangkat cukup pagi. Mungkin sekitar jam 08.00 pagi,
kami berangkat. Tapi kali ini aku ingin mengajak nya ke kampoeng tulip terlebih
dahulu. Mungkin akan lebih mudah mencari seseorang di daerah wisata.
Hitung-hitung sekalian menghibur hatinya yang sedang sedih. Apalagi kampoeng
tulip sangatlah ngetren di kalangan anak muda saat ini. Mungkin disana Ratih
dapat bertemu tunangannya.
Tapi
kelihatannya rencana menghiburnya tidaklah berhasil. Sepanjang perjalanan Ratih
hanya diam dan sedih. Sambil sesekali celingak-celinguk seperti mencari
seseorang. Dan yang pasti mencari kekasihnya. Itu pasti… Aku bisa melihat itu.
Betapa cinta dan rindunya Ratih pada kekasihnya itu. Memang wanita itu selalu
gampang dibodohi lelaki. Mereka selalu gampang terbawa perasaan. Sehingga mudah
dikibuli oleh lelaki yang tak bertanggung jawab seperti papa ku. Ahh… aku mulai
mengigau.
Kami
menyusuri semua tempat di Kampoeng Tulip. Mulai dari taman bunga, kolam terapi
ikan, naik perahu dan berselfi ria di rumah bergaya belanda. Tapi herannya Ratih
tak sedikitpun tersenyum. Aku memintanya untuk sedikit santai dan bahkan
menghiburnya. Tapi itu tak sedikitpun membantu. Sampai akhirnya aku harus
meninggalkannya sendiri karena handphoneku berdering. Beberapa saat kemudian
aku mencari untuk mengajaknya pulang. Klien menanyakan beberapa gaun yang ia
pesan dan gawatnya aku lupa denganm pesanan itu. Padahal gaun ini akan diambil
besok jam 10.00 pagi. Ahh dasar ceroboh…
D i tengah kekalutanku, Ratih malah
menghilang. Kucarinya kesana-kemari. Sampai akhirnya aku menemukannya sedang
berbicara dengan seseorang di taman bunga tempat itu. Dengan siapa? Aku tidak
tahu. Seseorang yang ia ajak bicara terhalang oleh pohon. Aku sudah tak sempat
lagi bertanya atau bahkan menghampirinya. Aku hanya memanggil Ratih dari jauh
untuk mengajaknya pulang.
Aku
melihat banyak perubahan pada dirinya sekembali dari tempat itu. Dia terlihat
sedang berbahagia. Mungkin obyek wisata itu dapat sedikit merubah suasana
hatinya. Tapi aku sudah tak ada waktu untuk menyapanya waktu itu. Setelah
memulangkan Ratih, aku langsung meluncur ke butikku di Jl Mars. Para pegawai
terpaksa ku suruh datang padahal hari ini seharusnya mereka libur. Untung
mereka mengerti. Aku mempunyai dua penjahit handal yang tiga tahun terakhir
membantuku. Aku memberi mereka satu rancangan gaun untuk mereka kerjakan di
rumah. Dan sisa dua gaun akan ku kerjakan bersama temanku si Febi ‘teman
kuliahku yang juga fashion desainer’. Kami janjian mengerjakannya di rumahku.
Untung
tak dapat di raih, malang tak dapat ditolak. Itulah mungkin peribahasa yang
tepat atas apa yang menimpaku saat ini. Mengapa tidak? Febi yang sebelumnya
bersedia membantu, membatalkan janjinya secara tiba-tiba karena ibunya masuk
rumah sakit. Apa mau di kata hari ini aku harus begadang semalaman. Sesampai di
rumah, aku langsung masuk kamar untuk segera mengerjakan pekerjaanku karena
sudah pukul 17.00 malam. Tak lagi ku hiraukan sekelilingku. Apalagi makan
malam, perut ku seolah kenyang sebelum makan.
Di
tengah kesibukanku aku mendengar pintu kamar diketuk.” Teh, apakah teteh atos
mondok?”, tanya Ratih. “belum Rat…!” jawabku. Ku buka pintu kamar dan
mempersilahkan masuk. “ ada apa Rat?”, tanyaku sambil mengerjakan pekerjaanku
tanpa memandangnya sedikitpun. “Hapunten teteh,abdi terang teteh rarepot pisan.
nanging ieu sangatlah peryogi,margi abdi tak gaduh seueur wanci... bisakah
teteh melowongkeun wanci sapuluh menit wae, nyarios kalawan abdi?” katanya
dengan nada serius. “ Maafkan saya Ratih. Tapi saya sangat sibuk. Saya ada
pekerjaan yang juga sangat penting yang harus selesai esok hari. Kamu
mengertikan… maaf ya!” Jawabku dengan penuh penyesalan. “O heueuh teh. teu naon-naon” jawabnya sambil
melangkah keluar kamarku. Sejurus ada penyesalan, tapi kemudian ketika ingat
pekerjaan ku peristiwa itu sudah terlupakan. Yang ku ingat hanya pekerjaan ini
harus selesai tepat waktu. Sampai-sampai pintu kamar ku biarkan terbuka setelah
kepergian Ratih tadi.
Satu
gaun sudah hampir selesai. Tinggal finishing sana sini. Untuk membunuh
ketegangan, ku putar lagu-lagu Afgan ‘artis favoritku’. Ahh selesai juga satu
gaun. Malam itu terasa sangat cepat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul
02.00 pagi. Aku sangat lelah dan ngantuk. tapi gaun kedua juga harus selesai.
Lalu bergegas ku buat pola dan ku potong kain yang sudah ku siapkan. Kemudian
kuambil potongan kain tadi untuk ku jahit. Ahh… kantukku tak dapat ku tahan
lagi. Aku terlelap diiringi lagu-lagu Afgan.
Sampai
akhirnya aku di kagetkan oleh dering handphoneku. Hah.. ini sudah sangat siang.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00. Buru-buru kuambil handphone di
meja sisi ranjang. Ternyata dari salah satu pegawaiku yang akan masuk kerja
tapi butik masih tutup. Aku tak bisa berpikir logis. Kusalahkan semua orang rumah
yang tidak membangunkanku. Tanpa mendengar alasan mereka aku berlalu pergi
untuk menyuruh pak toha mengantar kunci butik. Segera kulahap secepat mungkin
sarapan pagiku dan bergegas untuk siap-siap. Kendala lagi-lagi datang. Aku
kehilangan gaun yang selesai ku buat tadi malam. Heh tidak gaun lain yang masih
sempat aku potongpun juga hilang. Ku cari kemana-mana tak ku temui. Aku
berteriak-teriak memanggil bik Narti. Lalu tergopoh-gopoh ia datang ke kamarku.
“Ada apa neng?” tanyanya penuh kaget. “Apakah bik Narti memindah dua gaun yang
ku kerjakan tadi malam. Satu gaun ku letakkan diatas ranjangku dan gaun
berikutnya masih berupa potongan kutaruh diatas mesin jahitku”, tuduhku
kepadanya. Ia malah tersenyum mendengar tuduhanku. Lalu ia mengatakan bahwa dua
gaun itu telah dipindah Ratih untuk ia kerjakan. Karena takut menggangku
tidurku. Gaun itu ia taruh di ruang tamu. Kaget aku mendengarnya. Lancang
sekali dia, aku tahu dia memang suka membantuku tapi bukan ini. Apa dia mampu…
langsung saja dengan muka merah padam ku cari gaun itu di ruang tamu. Ahh.. itu
dia. Ia taruh diatas meja. Lagi-lagi aku dikagetkan ulah gadis itu. Ternyata
aku salah menilainya. Dia memang gadis luar biasa. Sekali lagi ia menolongku.
Ratih telah berhasil membuat gaun yang sangat indah. Takjubku lagi ia kerjakan
semuanya dengan tangan. Dan semuanya terlihat rapi. langsung saja kusiapkan
semuanya untuk kubawa ke butik. Setelah persiapan lengkap ku cari Ratih untuk
mengucapkan terima kasih. Tapi kata bik Narti, Ratih tidak ada. Ingin aku bertanya
dimana perginya gadis itu, tapi kuurungkan. Mungkin ia mandi. Soal ucapan
terima kasih bisa nanti-nanti. Langsung saja aku pergi menuju butik
Ahh…
semua keruwetan hari ini akhirnya selesai juga. Klien merasa puas dengan semua
hasilnya. Dan hari ini butik sangat ramai pengunjung. Hari sudah larut. Aku
bergegas pulang untuk segera menemui Ratih. Sesampai di rumah kucari gadis itu
di semua sisi ruamahku. Tapi yang kutemui malah bik Narti. “lho bibik kok belum
pulang?, maaf ya bik atas sikapku tadi pagi”, ungkap dengan penuh penyesalan. “
ahh gak pa-pa neng..bibik sangat mengerti apa yang sedang eneng alami. Apakah
neng mencari Ratih?”,tanyanya padaku. Lalu ia mengajakku duduk di kursi ruang
itu. Sambil memegang tanganku erat. Bibik menceritakan bahwa Ratih sudah pergi
selepas mengerjakan gaun tadi. Aku kaget mendengarnya. Apa itu yang ingin ia
bicarakan tadi malam. Bodohnya aku tak memberi kesempatan bicara padanya. Kata
bibik, Ratih sudah menemukan tunangannya. Ia bertemu dengan tunangannya di
Kampoeng tulip kemaren. Tapi ia menolak pergi sebelum berpamitan denganku.
Ahh.. penyesalan selalu datang belakangan.
Berhari-hari
perasaan sedih dan penyesalan belum juga sirna. Ratih, gadis yang sudah
kuanggap adikku sendiri itu pergi entah kemana. Ditambah lagi pertemuan
terkhirku dengan Ratih sungguh tidak mengenakkan. Aku sungguh menyesal atas
semuanya. Hari ini kuputuskan untuk ke Jakarta menemui Oma. Akan kutumpahkan
semua sedih dan penyesalanku padanya. Butik ku pasrahkan pada pegawai kepercayaanku.
Aku
sudah sampai di halaman rumah Oma. Kudapati Oma sedang duduk di beranda seperti
membaca sesuatu. “Oma…” sapaku padanya.
“ Ooo sayangnya Oma.... aya angin naon dinten kemis naha atos
wangsul? pan dawam minggu neng. ahh teu naon-naon Oma senang kamu bisa pulang
hari ini Oma kangen sama kamu” katanya sambil memelukku. “ada yang ingin Sofi
ceritakan ke oma.” Kataku. “Ada apa sayang? kok kelihatan sedih. Ahh... engke
bae carios na oma tadi meser es cingcau na mang diman. koma bantun pan
tiheula!”, kata Oma sambil bergegas pergi. Aku hanya tersenyum kecut.
Aku
menunggu Oma dengan duduk di kursi beranda tepat Oma duduk tadi. Iseng ku buka
album foto usang yang ternyata dilihat Oma tadi. sejurus kemudian Oma datang
dari balik pintu. “Album kapan ini Oma kok Sofi belum pernah lihat?”, tanyaku
padanya. “O… itu, Aki Sunar kemaren berkunjung ke Jakarta. manehna miwarang Oma
ngalereskeun albeum kenangan ieu supados langkung awet. Karena ada banyak foto
yang sudah mulai rusak. Padahal album foto ini sudah di perbaiki dua kali!”,
kata Oma. Aku mendengarkan cerita oma sambil menyruput es cingcau dan
membolak-balik album itu. “ mataku tiba-tiba tertuju pada sosok gadis di foto
itu… "Bukankah ini Ratih",batinku. Aku sangat kaget sampai es cingcau
dalam genggaman kulepaskan begitu saja. “Ada apa sayang”, Oma pun kaget. Tapi
kaget gelasku lepas dari genggaman. “Ini siapa Oma?”, aku balik tanya. “ oo.
Itu, eta nini anjeun. Namanya
Ratih…landian.. raka Oma. nanging anjeunna ical teuing keman. Teu nyaho hirup
keneh atawa atos nilar! Raka Oma eta ical tanpa tapak sanggeus maksa kabur ti
imah anyar urang sanggeus mengungsi ka surabaya. Ninimu berbuat demikian
setelah mendengar kabar tunangannya gugur di medan perang. Setelah ikut
bergerilya pada peristiwa bandung lautan api,”, cerita Oma dengan sedih. Cerita
dari Oma lebih membuatku kaget. kok bisacerita Oma sama persis seperti apa yang
Ratih ceritakan padaku.Apa benar Ratih yang ku temui itu orang sama dengan yang
Oma ceritakan? Tapi mengapa ia masih terlihat muda persis yang ada di album?
Seharusnya ia lebih tua dari oma. Aku benar-benar bingung.
“Coba
Oma lihat foto ini!”, kataku sambil menunjukkan foto Ratih saat di Kampoeng
tulip bersamaku kemaren. Oma sangat kaget melihatnya. Gadis itu memang begitu
mirip dengan kakaknya. Lalu ku ceritakan
awal pertemuanku dengan Ratih hingga ia pergi dijemput kekasihnya. Berikut juga
semua sikap baik, kebiasaan dan cara bicaranya. Dan ternyata semuanya memang
sangatlah mirip dengan kakak Oma itu. “ Ini mungkin memang ninimu Sofi… Tuhan
telah mentakdirkan kamu bertemu dengannya. Agar kamu bisa menyampaikan kabar
baik pada Omamu ini dan Aki Sunar bahwa nini Ratih sudah meninggal dan bahagia
di sana.",Ungkap Oma sambil memelukku erat. Kami sama-sama menangis. Ini
berarti gadis yang ku anggap adek adalah niniku sendiri. Ahh… aku bingung harus
senang atau sedih.


Waahh... ternyata ratih...
BalasHapusBagus cerpennya :)
Makasih mbak. Salam kenal mbak,sering-sering mampir di blog ya...
Hapus